Firasat di Tepi Hutan
Langit Pantai Yogyakarta kelabu, awan tebal menutup bintang. Arga memegang Tombak Karang, ujungnya bercahaya biru lembut. Lila memeluk Cermin Ombak dan Mahkota Pasang, matanya waspada. Jaka berdiri di sisi mereka, pisau kecil di tangan, wajahnya penuh rahasia. Kerang di saku Arga berdenyut cepat, seperti jantung yang gelisah. “Kalian dengar itu?” tanya Lila, suaranya pelan.
Langkah kaki samar terdengar dari hutan. Bukan warga desa. Arga angkat tombak. “Tunjukkan diri!” teriaknya. Jaka melangkah maju, matanya menyipit. “Itu bukan Darmo,” katanya. “Tapi, ia dekat.” Kerang panas di tangan Arga. Suara Sari bergema. “Kembali ke laut. Ratu menanti.” Arga menatap Lila dan Jaka. “Kita harus ke pantai,” katanya.
Lila mengangguk, tapi Jaka ragu. “Laut berbahaya sekarang,” ujarnya. “Pengkhianat tahu artefak berkumpul.” Arga tak peduli. “Kita tak punya waktu.” Mereka berlari ke pantai, meninggalkan hutan. Laut Selatan bergemuruh keras, ombak naik tinggi. Di kejauhan, kapal besar Darmo terlihat, lampunya merah menyala.
Panggilan ke Laut
Perahu Terakhir
Desa Pantai Yogyakarta sepi, warga bersembunyi setelah kebakaran. Arga, Lila, dan Jaka temukan perahu kecil di dermaga, satu-satunya yang tersisa. “Ini gila,” kata Lila, tapi ia lompat ke perahu. Arga pegang tombak, Lila cermin dan mahkota, Jaka hanya pisau. Kerang bercahaya, tunjuk arah ke tengah laut.
Mereka dayung cepat. Angin dingin bawa bau garam dan sesuatu lain—busuk, seperti kutukan. Cermin di tangan Lila bercahaya. Gambar muncul: istana karang, sama seperti di Episode 2, tapi kini gelap, penuh bayang. “Ratu di sana,” kata Arga. Jaka menatap laut. “Ia tak sendiri,” gumamnya.
Tiba-tiba, air bergoyang. Siluman kecil—mata kuning, tubuh licin—muncul di sisi perahu. Arga ayun tombak, cahaya biru potong mereka. Lila arahkan cermin, tolak yang lain. Jaka lempar pisau, tepat ke mata siluman. “Kalian belajar cepat,” katanya, tersenyum tipis. Tapi, kapal Darmo mendekat. “Kita takkan sampai!” kata Lila.
Kembali ke Dunia Gaib
Kerang Arga bercahaya terang. Ombak naik, tarik perahu ke bawah. Dunia berputar. Mereka terbangun di dunia gaib, sama seperti mimpi Arga dulu. Istana karang menjulang, tapi kini retak, cahayanya pudar. “Kita di wilayah ratu,” kata Jaka. Arga pegang tombak. “Ayo cari dia.”
Lorong istana gelap, dindingnya bergerak seperti air hidup. Cermin Lila tunjukkan Nyi Roro Kidul, berdiri di ruang singgasana. Tapi, sosok lain ada di sisinya—pengkhianat, berjubah hitam, mata merah. “Itu dia,” kata Jaka, suaranya tegang. “Raden Kala, pelayan lama ratu.” Arga menatapnya. “Kau tahu dia dari awal?” Jaka mengangguk. “Aku gagal hentikan dia dulu.”
Rahasia di Singgasana
Kebenaran Jaka
Mereka masuk ruang singgasana. Nyi Roro Kidul berdiri di tengah, jubahnya hijau berkibar, tapi wajahnya lelah. Raden Kala di sisinya, memegang rantai gaib yang ikat ratu. “Kalian terlambat,” katanya, suaranya serak. Darmo muncul dari bayang, artefak merah di tangan. “Artefak ini milikku,” katanya, tersenyum licik.
Arga angkat tombak. “Lepaskan ratu!” teriaknya. Lila buka cermin, mahkota di tangannya bercahaya. Jaka melangkah maju. “Kala, ini akhirnya,” katanya. Raden Kala tertawa. “Kau penutup, Jaka. Kau biarkan kutukan lahir.” Arga menatap Jaka. “Apa maksudnya?” tanyanya. Jaka menunduk. “Aku penjaga pertamanya. Aku gagal lindungi laut.”
Nyi Roro Kidul bicara, suaranya lemah. “Kutukan lahir karena pengkhianatan. Kala ingin kuasai laut. Darmo alatnya.” Arga rasakan kerang panas. “Kami punya artefak,” katanya. Ratu menatapnya. “Gunakan bersama. Hanya itu hentikan mereka.”
Pertarungan Gaib
Raden Kala serang. Bayang hitam keluar dari jubahnya, bentuk siluman besar. Arga ayun tombak, cahaya biru bentur bayang. Lila angkat cermin, cahayanya bakar siluman. Jaka lompat, pisau menusuk Kala, tapi ia tolak Jaka dengan rantai. “Kalian takkan menang!” raung Kala.
Darmo angkat artefak merah. Cahayanya bakar lantai istana. Arga tarik Lila. “Satukan artefak!” katanya. Lila letakkan mahkota di cermin. Arga tusuk tombak ke tengah. Cahaya biru, hijau, dan emas bersatu, guncang istana. Rantai ratu putus. Nyi Roro Kidul bangkit, matanya menyala. “Cukup!” teriaknya.
Gelombang gaib tolak Kala dan Darmo. Kala meraung, tubuhnya retak. “Aku akan kembali!” katanya, lalu lenyap ke bayang. Darmo lari, artefak merah jatuh. Ratu ambilnya, hancurkan dengan tangan. “Kalian buktikan diri,” katanya pada Arga dan Lila.
Harga Kemenangan
Pengorbanan Jaka
Jaka terluka, pisau di tangannya berdarah. “Aku tebus dosa,” katanya, tersenyum lemah. Ia tarik napas terakhir, jatuh di lantai istana. Arga menunduk. “Dia menolong kita,” katanya. Lila pegang tangannya. “Dia pilih jalan ini.” Ratu menatap Jaka. “Ia pulang ke laut,” ujarnya, suaranya lembut.
Istana bercahaya lagi. Ratu angkat tangan. “Laut akan sembuh. Tapi, tugas kalian belum selesai.” Arga menatapnya. “Ayahku… dia di sini?” Ratu diam sejenak. “Kau akan temukan jawaban, tapi bukan sekarang.” Cermin bercahaya, tunjukkan desa—aman, tapi bayang samar ada di laut.
Kembali ke Dunia Nyata
Cahaya membutakan. Arga dan Lila terbangun di pantai. Artefak masih di tangan mereka. Desa tenang, warga mulai bangun rumah. Mbok Sari temui mereka. “Kalian bawa kedamaian,” katanya. Ibu Arga peluk mereka. “Kalian selamat,” katanya, air mata jatuh.
Tapi, Arga tak tenang. Kerang berdenyut pelan. Cermin tunjukkan laut—jernih, tapi kapal kecil ada di cakrawala. “Darmo,” gumam Arga. Lila menatapnya. “Kita belum selesai, ya?” Arga mengangguk. “Belum.”
Kembali ke Episode 8 | Lanjut ke Episode 10
BERSAMBUNG…
Akankah Arga temukan ayahnya di Laut Selatan bersama Lila? Bisakah mereka hentikan Darmo dan sisa kutukan Nyi Roro Kidul? Ikuti kelanjutan petualangan epik!
