Malam itu, langit Desa Arut terselimuti kabut gelap yang tak biasa. Angin membawa bisikan aneh dari hutan, seolah memanggil. Di rumah Bu Ratmi, keputusan telah diambil.
Persiapan Menuju Lingkaran Darah
Laras berdiri di depan cermin, menatap dirinya. Bekas luka di lengannya masih samar, tapi matanya penuh keteguhan. Raka menatap dari ambang pintu, gelisah tapi tak bisa menghentikan.
“Laras, kau yakin ingin melanjutkan ini?” tanya Raka pelan.
Laras menatapnya, tersenyum tipis. “Kalau kita tidak menghentikan ini sekarang, generasi berikutnya akan terus dihantui. Aku tak mau hidup dalam bayang-bayang darah selamanya.”
Bu Ratmi menyiapkan mangkuk tanah liat berisi ramuan merah tua, bercampur serpihan daun dan bunga hutan. “Ini,” ucapnya, menyerahkan mangkuk pada Laras. “Saat tiba di Lingkaran Darah, ramuan ini harus dituangkan di tanah bersama darah keturunan keempat keluarga. Barulah perjanjian bisa diakhiri.”
Raka bersikeras ikut. “Aku tidak akan membiarkan kalian pergi sendiri.” Bu Ratmi mengangguk, meski matanya menyiratkan kekhawatiran.
Perjalanan ke Hutan
Mereka bertiga menyusuri hutan. Pohon-pohon menjulang seperti penjaga tua, suara malam terasa berat. Di tengah perjalanan, mereka tiba di jalan setapak dari mimpi Laras—jalur menuju Lingkaran Darah.
Tiba-tiba, langkah cepat terdengar dari semak-semak. Raka siaga, “Ada sesuatu di belakang kita.”
Dari kegelapan, muncul bayangan hitam besar dengan mata merah menyala—serigala hitam raksasa, lebih besar dari sebelumnya. Laras tertegun. Bu Ratmi berbisik, “Itu penjaga perjanjian.”
Penjaga Lingkaran Darah
Serigala itu tak langsung menyerang, hanya mengelilingi perlahan, seolah menguji. Bu Ratmi maju, menunjukkan gelang tua di pergelangannya—lambang keluarga Wibawa.
“Aku datang membawa darah keturunanku,” ucapnya lantang. “Kami ingin mengakhiri ini.”
Serigala menggeram, tapi tak menyerang. Ia berbalik, menuntun mereka ke tengah hutan yang lebih gelap. Tak lama, mereka tiba di lapangan terbuka, dikelilingi lingkaran batu-batu tua. Di tengahnya, tanah membentuk pola spiral merah tua—seperti pernah direndam darah.
Laras merasa dadanya sesak. Tempat ini seperti dari mimpinya.
Ritual Pengorbanan
Bu Ratmi mengambil pisau kecil, menyerahkan satu pada Laras. “Letakkan setetes darahmu di sini,” ucapnya sambil meneteskan darahnya ke tengah lingkaran.
Laras menggores ujung jarinya, meneteskan darah ke tanah. Raka menatap, tapi Bu Ratmi menahan tangannya. “Hanya darah keturunan yang terkait. Kau tidak perlu.”
Saat darah mereka menyatu, angin kencang berhembus. Bisikan terdengar lebih keras, tanah bergetar. Akar-akar hitam muncul dari dalam, merambat seperti mencari sesuatu, lalu berhenti, seolah ragu.
Pengorbanan Terakhir Bu Ratmi
Bu Ratmi berlutut, suaranya tegas. “Kami menyerahkan darah kami untuk mengakhiri perjanjian leluhur. Biarkan desa ini bebas.”
Tapi tanah retak, dan sosok bayangan manusia muncul—wajah samar, mata merah menyala. Laras mundur. “Apa itu?”
Bu Ratmi menatap terpaku. “Roh pemimpin keluarga Wibawa yang mengkhianati perjanjian.”
Roh itu berbicara dengan suara bergema, “Darah kalian belum cukup. Dosa masa lalu harus dibayar penuh.”
Bu Ratmi menatap Laras dan Raka dengan mata sayu. Tanpa ragu, ia menusukkan pisau ke pergelangannya, darah mengucur deras ke tanah. “Biar aku membayar lunas dosa leluhurku,” bisiknya.
Tanah tenang. Akar-akar mundur, roh itu menghilang. Angin berhenti. Bu Ratmi tersungkur lemah. Laras menahan tangis, memeluknya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Bu Ratmi tersenyum. “Jaga Desa Arut… jangan biarkan perjanjian dibuat lagi.”
Fajar Baru Desa Arut
Fajar menyingsing. Langit Desa Arut cerah untuk pertama kalinya setelah lama. Tak ada lolongan, tak ada bayangan hitam. Laras berdiri di tepi hutan, menatap desa. Raka di sampingnya.
Perjanjian darah telah berakhir. Kisah Desa Arut akan dikenang—pengingat bahwa masa lalu punya bayangan, tapi keberanian dan pengorbanan bisa mengubah segalanya.
Kembali ke Episode 7 | Lanjut ke Episode 9
BERSAMBUNG…
Akankah Desa Arut benar-benar bebas dari bayang-bayang masa lalu? Ikuti kisah selanjutnya!
