Setelah menerima bimbingan dari Mbah Surono tentang Ritual Penyatuan, Bagas dan Ayu mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi malam purnama yang akan menentukan harmoni ikatan mereka. Namun, sebelum ritual dapat dilaksanakan, tanda-tanda gaib mulai muncul, menguji keyakinan mereka di Desa Sumberjati.
Tanda-Tanda Gaib yang Mengganggu
Malam setelah pertemuan dengan Mbah Surono, Bagas terbangun oleh suara auman pelan dari hutan. Ia melirik ke samping, melihat Ayu tertidur dengan ekspresi gelisah. Saat melangkah ke beranda, ia melihat bayangan macan putih bergerak di kejauhan, lebih jelas dari sebelumnya. Jantungnya berdegup kencang—apakah ini pertanda baik atau peringatan?
Pagi harinya, Ayu menceritakan mimpinya. “Mas, aku melihat macan putih berdiri di tepi sungai suci. Ia menatapku, seolah memintaku bersiap untuk sesuatu yang besar,” katanya dengan nada cemas. Bagas menggenggam tangannya. “Kita harus percaya pada proses ini, Yu. Mbah Surono pasti tahu apa yang harus kita lakukan.”
Konsultasi Kembali dengan Mbah Surono
Bagas dan Ayu kembali mengunjungi Mbah Surono, membawa kabar tentang bayangan dan mimpi mereka. Rumah sesepuh itu penuh aroma dupa, menambah suasana mistis. Mbah Surono mendengarkan dengan tenang, lalu berkata, “Itu adalah panggilan dari siluman macan putih. Mereka merasakan ritual semakin dekat dan menguji kesiapan kalian. Jangan takut, tapi kalian harus memperkuat batin sebelum malam purnama.”
Beliau menyarankan mereka untuk melakukan meditasi khusus di hutan, tempat Bagas pertama kali melihat Ayu bersama bayangan macan putih. “Di sana, kalian akan terhubung dengan energi leluhur dan memahami apa yang diinginkan siluman macan putih,” tambahnya.
Meditasi di Hutan Larangan
Sore itu, Bagas dan Ayu melangkah ke Hutan Larangan dengan hati-hati, membawa sesaji sederhana—nasi putih dan bunga melati—sebagai tanda hormat. Mereka duduk bersila di tanah lapang kecil, tempat Ayu pernah berdiri diterangi bulan purnama. Dengan mata terpejam, mereka fokus pada pernapasan, membiarkan angin hutan membawa ketenangan.
Tiba-tiba, Bagas merasakan hawa dingin menyelinap di punggungnya. Ia membuka mata dan melihat bayangan macan putih melintas di hadapannya, lalu menghilang. Ayu, yang juga membuka mata, berkata pelan, “Aku mendengar bisikan, Mas. Mereka meminta kita menjaga janji untuk hidup selaras dengan alam.” Bagas mengangguk, merasa keyakinannya semakin kuat.
Persiapan Terakhir dengan Mbah Surono
Kembali ke desa, mereka melaporkan pengalaman itu kepada Mbah Surono. “Bagus sekali,” katanya tersenyum. “Kalian telah mendapat restu awal dari siluman macan putih. Sekarang, kita lanjutkan persiapan terakhir.”
Mbah Surono memandu mereka menyiapkan perlengkapan ritual: kelakat, roti buaya, dan simbol naga serta macan putih. Ia juga mengingatkan, “Besok malam, di tepi sungai suci, kalian harus membuktikan cinta dan komitmen kalian. Bayang gaib ini adalah ujian terakhir sebelum penyatuan.”
Bagas dan Ayu saling berpandangan, tekad mereka semakin membara. Mereka siap menghadapi malam purnama dengan hati yang mantap.
Kembali ke Episode 6 | Lanjut ke Episode 8
BERSAMBUNG…
Bagaimana Bagas dan Ayu akan menghadapi Ritual Penyatuan setelah ujian gaib ini? Akankah mereka berhasil memulihkan keseimbangan? Ikuti kelanjutan kisah di Desa Sumberjati!
