Episode 6: Darah di Bawah Bulan Merah Desa Arut

Episode 6: Darah di Bawah Bulan Merah Desa Arut

Malam di Desa Arut terasa lebih sunyi dari biasanya. Bulan purnama menggantung di langit, memancarkan cahaya kemerahan yang ganjil, seolah menjadi pertanda buruk bagi siapa pun yang masih terjaga. Di rumah Bu Ratmi, Raka duduk gelisah, menatap Laras yang berdiri di dekat jendela, memegang buku tua bersampul kulit usang.

Buku Perjanjian Kuno

“Ini malamnya,” ucap Laras pelan tanpa menoleh. “Malam di mana penghuni hutan menagih darah.”

Raka mendekat, mencoba memahami. “Apa maksudmu?”

Laras membuka buku itu, memperlihatkan halaman penuh tulisan tangan dan simbol aneh. “Buku ini milik kakek buyutku. Dia yang membuat perjanjian itu. Dan malam ini, kita harus mengakhirinya.”

Tiba-tiba, pintu rumah berderit terbuka sendiri. Angin dingin masuk, membawa bisikan samar. Bu Ratmi muncul dari dapur, wajahnya pucat. “Raka, Laras. Kalian harus ke sumur tua sekarang. Warga melihat sesuatu keluar dari sana. Mereka ketakutan,” katanya dengan suara gemetar.

Suara dari Sumur Tua

Mereka bertiga bergegas menuju sumur di tepi hutan, diikuti beberapa warga yang penasaran namun menjaga jarak. Tanah di sekitar sumur basah seperti habis digali, dan bau anyir darah menyengat udara. Dari dalam sumur, terdengar suara lirih—seperti erangan kesakitan.

“Itu suara… Ayahku,” bisik Laras tiba-tiba, matanya berkaca-kaca.

Raka menatapnya terkejut. “Bukankah ayahmu sudah lama menghilang?”

Laras mengangguk pelan. “Dia menghilang pada malam pernikahannya. Tak ada yang tahu ke mana. Tapi aku selalu merasa dia belum pergi sepenuhnya.”

Pengorbanan Laras

Laras mendekati sumur, memegang buku itu erat. Lolongan serigala menggema dari hutan, diikuti bayangan tinggi besar melintas di antara pepohonan. Tanah di sekitar sumur retak, dan dari celahnya muncul bayangan hitam bertubuh tinggi, matanya merah menyala. Warga berteriak ketakutan dan mundur, tapi Laras tetap berdiri tegak.

“Aku tahu siapa kau,” ucap Laras lantang. “Kau yang menagih perjanjian itu. Tapi malam ini, aku akan mengakhirinya.”

Buku di tangan Laras berpendar cahaya kehijauan. Tanah bergetar, dan suara seperti tangisan terdengar dari segala arah. “Perjanjian ini dibuat oleh darah, dan hanya bisa diakhiri oleh darah keturunannya,” lanjut Laras, lalu melukai telapak tangannya, meneteskan darah ke tanah.

Akhir Kutukan?

Bayangan itu menggeram, perlahan memudar bersama angin malam. Suara erangan dari sumur berhenti. Semua menjadi hening. Raka berlari mendekat, memegang Laras yang tampak lemas.

“Apa yang kau lakukan?”

Laras tersenyum tipis. “Mengakhiri kutukan. Tapi ini belum selesai, Raka. Masih ada satu rahasia yang belum terungkap… tentang siapa yang pertama kali mengkhianati perjanjian.”

Di kejauhan, Bu Ratmi menatap mereka dengan mata berkaca-kaca, seolah menyimpan sesuatu yang tak pernah ia ungkapkan.

Kembali ke Episode 5 | Lanjut ke Episode 7
BERSAMBUNG…
Siapakah leluhur yang mengkhianati perjanjian itu? Apa rahasia besar yang disembunyikan Bu Ratmi? Ikuti kelanjutan misteri Desa Arut!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top