Panggilan Sang Penjaga Laut Selatan: Ancaman di Desa Pantai

Panggilan Sang Penjaga Laut Selatan: Ancaman di Desa Pantai

Bayang di Hutan

Hutan kecil di tepi Pantai Yogyakarta gelap gulita. Arga memegang Tombak Karang, ujungnya bercahaya biru samar. Cermin Ombak terbungkus kain di tangan Lila. Kerang di saku Arga berdenyut pelan, seperti jantung kecil. “Kalian tak bisa sembunyi,” kata suara asing dari kegelapan. Langkah kaki mendekat, bukan siluman—manusia.

“Lari!” bisik Lila. Mereka berlari, ranting patah di bawah kaki. Arga pegang tombak erat, siap ayun jika perlu. Lila menoleh, matanya lebar. “Mereka cepat!” katanya. Cahaya merah samar muncul di belakang—artefak Darmo. Arga tahu waktu mereka hampir habis. “Ke desa!” katanya. Mereka keluar hutan, lihat desa di kejauhan. Tapi, asap tipis naik dari sana.

Arga berhenti. “Desa…” gumamnya. Lila pegang lengannya. “Kita harus ke sana, Arga. Ibumu di sana.” Kata-kata itu tarik Arga kembali. Ia angguk. Dengan tombak dan cermin, mereka lari ke desa. Laut Selatan di sisi mereka bergemuruh keras, seolah Nyi Roro Kidul perhatikan.


Desa dalam Kepanikan

Api dan Ketakutan

Desa Pantai Yogyakarta kacau. Api kecil menyala di gudang dekat dermaga. Warga lari, bawa ember air. Mbok Sari teriak perintah. “Jangan biarkan api menyebar!” katanya. Arga dan Lila tiba, napas tersengal. Ibu Arga berdiri di tepi kerumunan, wajahnya pucat. “Arga!” teriaknya. Arga lari padanya. “Kamu ke mana?” tanya ibunya, suara gemetar.

“Aku baik-baik saja, Bu,” kata Arga, tapi matanya ke api. Ia tahu ini bukan kecelakaan. Lila tarik lengan Arga. “Lihat,” bisiknya. Pria berpakaian kota—anak buah Darmo—berdiri di bayang. Mereka bawa kotak logam, sama seperti di dermaga. “Mereka di balik ini,” kata Lila. Arga pegang tombak. “Kita harus hentikan.”

Mbok Sari lihat Arga. “Kau bawa apa, anak muda?” tanyanya, tunjuk tombak. Warga menoleh. Arga kaku. “Ini… untuk laut,” jawabnya pelan. Mbok Sari menatap lama. “Laut memanggilmu, ya?” katanya, suaranya lembut tapi berat. Arga tak jawab. Ia tahu rahasianya tak lama lagi aman.

Rencana Cepat

Arga dan Lila tarik ibu Arga ke rumah. “Kau harus sembunyi, Bu,” kata Arga. Ibunya protes. “Aku tak tinggalkan desa!” Arga menatapnya. “Ini demi kita semua.” Lila buka cermin. “Lihat ini,” katanya pada ibu Arga. Gambar di cermin tunjukkan laut gelap, bayang besar bergerak. “Desa dalam bahaya,” kata Lila. Ibu Arga akhirnya angguk, meski ragu.

Di luar, api reda, tapi ketegangan tak hilang. Arga dan Lila sembunyi di belakang rumah. “Kita harus temukan Darmo,” kata Arga. Lila angguk. “Tapi, cermin dan tombak tak aman di sini.” Arga pegang kerang. “Sari, apa yang harus kulakukan?” gumamnya. Tak ada jawaban. Tapi, kerang bercahaya, tunjuk arah ke laut.


Ke Laut Sekali Lagi

Perahu di Malam

Arga dan Lila curi perahu kecil di dermaga. “Ini gila,” kata Lila, tapi ia dayung kuat. Laut Selatan tenang, tapi udara dingin. Cermin di tangan Lila tunjukkan pantai lain—tebing tinggi, gua besar. “Mahkota Pasang,” gumam Arga. Ia tahu artefak terakhir harus diamankan sebelum Darmo ambil semua.

Tiba-tiba, air bergoyang. Bayang hitam muncul di bawah perahu, bukan ikan—siluman. “Keren cermin!” teriak Arga. Lila pegang erat. Arga ayun Tombak Karang. Cahaya biru bentur air, tolak siluman. Tapi, perahu goyang keras. “Kita takkan sampai!” kata Lila. Kerang Arga bercahaya terang. Suara Sari akhirnya muncul. “Ke tebing. Sekarang,” katanya.

Mereka dayung cepat. Tebing tinggi muncul di depan. Gua besar ada di dasarnya, mulutnya penuh karang. “Itu dia,” kata Arga. Tapi, lampu sorot tiba-tiba menyala dari laut. Perahu besar mendekat, penuh pria bersenjata. “Darmo,” gumam Lila. Jantung mereka berdegup.

Masuk Gua

Arga dan Lila lompat ke air, berenang ke gua. Air dingin, tapi kerang pandu mereka. Di dalam, gua basah dan gelap. Cermin bercahaya samar, tunjuk lorong. “Kita harus cepat,” kata Arga. Lila menoleh. “Mereka di belakang.” Langkah berat terdengar dari mulut gua. Arga pegang tombak. “Kita takkan serahkan ini,” katanya.

Lorong bawa mereka ke ruangan luas. Di tengah, platform karang kosong. “Mahkota seharusnya di sini,” kata Lila, cemas. Cermin tunjukkan gambar: mahkota emas, bersinar hijau, di tangan sosok gelap. “Darmo sudah ambilnya?” tanya Arga. Tiba-tiba, suara tawa dingin bergema.


Bayang Darmo Kembali

Konfrontasi di Gua

Darmo berdiri di pintu ruangan, artefak merah di tangannya. “Kalian terlambat,” katanya, tersenyum licik. “Mahkota Pasang milikku.” Arga ayun tombak. “Kembalikan!” teriaknya. Darmo angkat artefak. Cahaya merah bentur cahaya biru tombak. Gua bergoyang, batu jatuh dari atap.

Lila buka cermin. “Arga, lihat!” katanya. Cermin tunjukkan Nyi Roro Kidul, jubahnya berkibar. “Gunakan artefak bersama,” kata suara ratu, samar. Arga pegang cermin dan tombak. Cahaya hijau dan biru bersatu. Gelombang air muncul, tolak Darmo ke dinding. Ia meraung, tapi tak jatuh. “Ini belum selesai!” katanya, lalu lenyap ke lorong.

Arga dan Lila terengah. “Kita gagal,” gumam Arga. Lila pegang bahunya. “Kita masih punya ini,” katanya, tunjuk cermin dan tombak. Tapi, gua mulai runtuh. “Lari!” teriak Arga. Mereka berlari keluar, air kejar mereka.


Kembali ke Episode 5 | Lanjut ke Episode 7
BERSAMBUNG…
Bisakah Arga dan Lila rebut Mahkota Pasang dari tangan Darmo di Pantai Yogyakarta? Apa rencana Nyi Roro Kidul untuk selamatkan laut? Ikuti kelanjutan petualangan di Laut Selatan!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top