Suasana di sekitar sumur belakang rumah Sari mencekam. Warga berkerumun, membentuk lingkaran, sebagian berbisik ketakutan, sebagian memalingkan wajah. Laras dan Raka menerobos kerumunan, napas mereka masih terengah.
Mbah Surya dan Rahasia Sumur
Di tepi sumur, seorang pria tua jongkok dengan baju compang-camping dan rambut panjang tak terurus. Matanya menatap ke dalam sumur tanpa berkedip. “Itu Mbah Surya,” bisik Laras. “Orang paling tua di desa ini.”
Mbah Surya mengangkat kepala perlahan saat Laras mendekat. “Kalian terlambat,” gumamnya, suaranya berat. “Tanda-tanda sudah muncul.”
Raka melangkah maju. “Apa yang ada di sumur, Mbah?”
Mbah Surya menunjuk ke dasar sumur yang gelap. Samar-samar terlihat seikat bunga melati basah bercampur helai rambut panjang. “Itu… rambut manusia?” Raka nyaris berbisik.
Mbah Surya mengangguk. “Tanda bahwa penghuni hutan sudah menagih. Ia tak sekadar ambil tumbal, tapi juga meninggalkan pesan.”
Asal-Usul Perjanjian Darah
Laras menelan ludah. “Mbah, katakan yang sebenarnya. Siapa yang membuat perjanjian itu?”
Mbah Surya berdiri, tubuhnya bergetar. “Perjanjian itu dibuat oleh kepala desa pertama, kakek buyutku. Saat desa ini hampir musnah, ia berlutut di bawah Pohon Banyu, pohon paling tua di hutan, dan menyerahkan darahnya pada makhluk penunggu.”
Ia menatap Raka lekat-lekat. “Sejak itu, setiap sepuluh tahun, seorang lelaki harus menjadi pengantin yang takkan pernah melihat pagi.”
Raka menahan napas. “Apa ada cara memutus perjanjian itu?”
Mbah Surya menatap Laras sejenak, lalu menggeleng. “Harus ada yang menggantikan tumbal sebelum malam bulan purnama besok. Kalau tidak, seluruh desa akan terkena murka.”
Ritual di Bawah Pohon Banyu
Malam itu, suasana desa semakin mencekam. Hujan turun deras, angin membuat dedaunan berdesir seperti bisikan. Raka duduk di beranda, menatap gelap, sementara Laras menatap kosong ke hutan.
“Aku tahu satu cara,” bisik Laras tiba-tiba.
Raka menoleh. “Apa itu?”
“Ada ritual pemutus perjanjian. Tapi risikonya besar. Salah satu dari kita harus masuk hutan, di bawah Pohon Banyu, dan menghadap penunggu perjanjian.”
“Dan apa taruhannya?”
Laras menatap dalam ke mata Raka. “Jiwa kita.”
Tanpa menunggu pagi, Laras dan Raka menyiapkan sesajen, tali merah, dan seikat rambut milik pengantin yang meninggal. Bu Ratmi mencoba menghentikan mereka, tapi Laras memeluknya erat. “Aku harus mengakhirinya, Bu.”
Mereka menyusuri jalan hutan yang basah menuju Pohon Banyu. Hutan malam terasa hidup—bisikan angin, suara ranting patah, dan tertawa samar.
Pertemuan dengan Penunggu Hutan
Di tanah lapang tersembunyi, berdiri pohon raksasa dengan akar menjalar ke segala arah. Batangnya penuh simbol kuno tertutup lumut. “Ini dia,” bisik Laras.
Tiba-tiba, udara menjadi dingin. Dari balik pepohonan, muncul bayangan tinggi besar dengan mata merah menyala—penunggu hutan.
Laras menggenggam tangan Raka erat. “Mas, apa pun yang terjadi, jangan lepaskan.”
Makhluk itu mendekat, suaranya seperti desir ribuan daun kering. “Mana tumbal kalian?”
Raka menatap Laras. Saat itu ia menyadari—Laras sudah bersiap menjadi tumbal sejak awal. Tapi Raka tak bisa membiarkannya.
Kembali ke Episode 3 | Lanjut ke Episode 5
BERSAMBUNG…
Akankah Raka mengorbankan dirinya demi Laras dan Desa Arut? Apa yang akan ditawarkan kepada penunggu Pohon Banyu untuk memutus kutukan? Ikuti kelanjutan misteri ini!
