Episode 3: Jejak Bayangan di Hutan Terlarang Desa Sumberjati

Episode 3: Jejak Bayangan di Hutan Terlarang Desa Sumberjati

Malam di Desa Sumberjati terasa semakin mencekam. Sejak peristiwa di hutan, Bagas merasa ada jarak tak kasat mata antara dirinya dan Ayu. Meski Ayu tetap menunjukkan kasih sayangnya, Bagas tak bisa menghilangkan bayangan sosok macan putih yang dilihatnya malam itu. Pikirannya terus dihantui pertanyaan: siapa sebenarnya Ayu?

Tekad Bagas Mencari Jawaban

Suatu pagi, saat matahari baru menyingsing, Bagas memutuskan mencari jawaban. Ia teringat Hutan Larangan, sebuah hutan di ujung Desa Sumberjati yang jarang dimasuki orang karena dianggap angker. Konon, hutan itu dihuni siluman macan putih yang menjaga keseimbangan alam. Legenda ini mengingatkannya pada cerita tentang Maung Bodas, makhluk mitologi dari tanah Sunda, penjaga hutan dan simbol keberanian. Dengan tekad bulat, Bagas melangkah menuju hutan tersebut, percaya di sanalah petunjuk tentang asal-usul Ayu tersembunyi.

Memasuki Hutan Larangan

Suasana Hutan Larangan berubah drastis. Cahaya matahari sulit menembus lebatnya pepohonan, menciptakan bayangan yang menari di tanah. Suara alam terdengar samar, seolah berbisik memperingatkannya untuk kembali. Namun, Bagas mengabaikan rasa takut dan terus melangkah lebih dalam.

Setelah berjalan beberapa saat, ia menemukan pohon growong besar dengan lubang menganga di batangnya. Bagas teringat cerita tentang siluman macan putih yang mendiami pohon growong di lereng Gunung Lawu, makhluk yang konon menyerang siapa saja yang mendekat. Jantungnya berdegup kencang, tapi rasa ingin tahunya mengalahkan ketakutan.

Pertemuan dengan Pria Tua Misterius

Tiba-tiba, dari balik semak-semak, muncul sosok pria tua berjubah putih dengan tongkat kayu di tangan. Wajahnya penuh keriput, namun matanya memancarkan kewibawaan.

“Nak, apa yang kau cari di tempat terlarang ini?” tanya pria itu dengan suara berat.

Bagas terkejut, tapi segera menjawab, “Saya mencari kebenaran tentang istri saya, Ayu. Ada banyak hal yang tak saya mengerti, dan saya berharap menemukan jawabannya di sini.”

Pria tua itu menghela napas panjang. “Kau telah memasuki wilayah yang dijaga oleh Inyiak Balang, makhluk penjaga hutan yang dihormati masyarakat Minang. Mereka percaya Inyiak Balang adalah roh leluhur yang melindungi hutan dan isinya.”

Petunjuk tentang Ayu

Bagas menelan ludah, semakin cemas. “Apakah Ayu terkait dengan makhluk-makhluk itu?”

Pria tua itu menatap Bagas dalam-dalam. “Istrimu memiliki darah keturunan dari mereka. Ia bagian dari dunia yang berbeda denganmu. Namun, cintanya padamu nyata. Tapi ingat, ada pantangan yang tak boleh dilanggar. Jika itu terjadi, kehancuran akan menimpa kalian berdua.”

Bagas merasa dadanya sesak. “Pantangan apa itu, Pak?”

Pria itu menggeleng. “Itu bukan untukku memberitahumu. Kau harus menemukannya sendiri. Percayalah pada hatimu dan pada Ayu. Hanya dengan begitu kau bisa memahami dan menerima kenyataan yang ada.”

Sebelum Bagas sempat bertanya lebih lanjut, pria tua itu berbalik dan menghilang di antara pepohonan. Bagas berdiri terpaku, mencoba mencerna informasi yang didapat.

Kembali ke Rumah dengan Kebingungan

Sepulang dari Hutan Larangan, Bagas merasa pikirannya semakin kacau. Ia duduk di beranda rumah, menatap langit senja yang memerah. Ayu keluar dari dalam, membawa secangkir teh hangat, lalu duduk di sampingnya.

“Mas, ada apa? Kau tampak gelisah,” tanya Ayu lembut.

Bagas menoleh, menatap mata istrinya yang penuh kasih sayang. Ia ingin menanyakan semua yang ada di benaknya, tapi kata-kata pria tua itu terngiang kembali.

“Tidak apa-apa, Ayu. Aku hanya lelah,” jawab Bagas, mencoba tersenyum.

Ayu menggenggam tangan Bagas erat. “Apapun yang kau rasakan, aku selalu di sini untukmu.”

Bagas mengangguk, meski hatinya masih dipenuhi kebingungan. Ia sadar, perjalanan untuk memahami siapa Ayu sebenarnya baru saja dimulai.

Kembali ke Episode 2 | Lanjut ke Episode 4
BERSAMBUNG…
Apa pantangan yang dimaksud pria tua di hutan? Mampukah Bagas dan Ayu menghadapi tantangan yang menanti? Ikuti kelanjutan kisah di Desa Sumberjati!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top