Pagi di Desa Arut diselimuti kabut tipis, seolah desa ini menyembunyikan wajahnya dari dunia luar. Raka berdiri di beranda rumah Bu Ratmi, menatap jalanan desa yang kosong. Hanya suara ayam dan dedaunan bergoyang diterpa angin yang terdengar.
Perjalanan Bersama Laras
“Mas.”
Raka menoleh. Laras berdiri tak jauh, mengenakan kain batik sederhana dan selendang lusuh. Tanpa banyak bicara, ia memberi isyarat agar Raka mengikutinya. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir desa, melewati ladang kosong dan rumah-rumah kayu rapuh. Tak ada warga yang menyapa, hanya tatapan kosong dari balik jendela.
“Mau ke mana kita?” tanya Raka, memecah keheningan.
“Ke rumah pengantin terakhir,” jawab Laras singkat.
Pertemuan dengan Sari, Pengantin yang Berduka
Langkah mereka berhenti di depan rumah yang baru direnovasi. Dinding kayunya lebih cerah, atapnya kokoh, tapi suasana tetap suram. Seorang wanita muda, Sari, duduk di beranda, menunduk menatap tanah. Matanya kosong, rambutnya kusut.
“Itu Mbak Sari,” bisik Laras. “Pengantin yang suaminya meninggal semalam setelah ijab kabul.”
Raka mendekati perlahan. “Mbak, saya Raka. Boleh ngobrol sebentar?”
Sari mengangkat wajahnya. Lingkaran hitam terlihat di bawah matanya. “Apa yang mau Mas tanyakan? Semua orang sudah tahu jawabannya. Suamiku mati, seperti yang lain,” ucapnya pelan, seperti bisikan.
“Apa ada yang aneh malam itu?” desak Raka.
Sari menatap kosong ke depan. “Aku sempat dengar suara dari luar jendela. Seseorang memanggil suamiku. Tapi waktu kulihat, nggak ada siapa-siapa… hanya bayangan besar di ujung halaman. Suamiku keluar, lalu…”
Ia terisak, menutup wajahnya. “Besok paginya, aku menemukannya di dekat sumur. Tubuhnya kaku, wajahnya seperti ketakutan.”
Raka menatap Laras, merasa ada misteri lebih besar di balik kejadian ini.
Perjanjian Darah di Hutan
Setelah meninggalkan rumah Sari, Laras mengajak Raka ke pinggir hutan. Mereka berhenti di bawah pohon besar yang tampak tua, akar-akarnya mencuat dari tanah.
“Dulu, sebelum kejadian-kejadian ini, desa kami pernah melakukan sesuatu,” kata Laras pelan.
“Apa maksudmu?” tanya Raka.
“Saat desa ini hampir kelaparan karena gagal panen, ada seseorang yang membuat perjanjian dengan penghuni hutan. Perjanjian darah. Sebagai gantinya, setiap beberapa tahun, ada tumbal yang harus diberikan.”
Raka menelan ludah. “Tumbal? Pengantin pria itu?”
Laras mengangguk. “Mereka dipilih karena dipercaya sebagai simbol keberuntungan. Tapi sejak perjanjian itu dilanggar oleh salah satu leluhur desa, penghuni hutan menagih sendiri.”
“Siapa yang membuat perjanjian itu?”
Laras memandang jauh ke dalam hutan. “Orang yang masih hidup. Dan Mas akan bertemu dia malam ini.”
Kejutan di Sumur Desa
Sebelum Raka sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki cepat terdengar dari balik semak. Seorang lelaki muda muncul, wajahnya panik. “Laras! Ada yang aneh di sumur belakang rumah Sari! Cepat!”
Mereka berlari kembali ke desa. Di dekat sumur, beberapa warga sudah berkumpul, berbisik-bisik ketakutan.
Kembali ke Episode 1 | Lanjut ke Episode 3
BERSAMBUNG…
Apa yang ditemukan di sumur itu? Siapa pembuat perjanjian berdarah di masa lalu? Rahasia kelam Desa Arut mulai terkuak di episode berikutnya!
