Panggilan Sang Penjaga Laut Selatan: Gerbang ke Dunia Gaib di Laut Selatan

Panggilan Sang Penjaga Laut Selatan: Gerbang ke Dunia Gaib di Laut Selatan

Terbangun di Dunia Asing

Arga membuka mata. Kepalanya berdenyut. Ia terbaring di hamparan karang halus, dikelilingi air yang bercahaya lembut. Langit di atasnya bukan langit—hanya kubah biru berkilau, seperti dasar laut yang hidup. “Di mana aku?” gumamnya. Kerang di tangannya masih hangat, cahayanya pulas. Ia ingat gerbang itu. Makhluk bermata merah. Lalu, kegelapan.

Ia berdiri perlahan. Tubuhnya ringan, seolah air tak lagi tekan dia. Di kejauhan, istana karang menjulang. Pilar-pilarnya berkilau, dihiasi mutiara dan kerang. Arga melangkah. Suara ombak samar bergema, bercampur bisik aneh. “Kau akhirnya datang,” kata suara lembut di belakangnya. Arga menoleh cepat.

Seorang wanita berdiri di sana. Gaunnya mengalir, bercahaya hijau. Rambutnya panjang, matanya dalam seperti laut. Ia bukan Nyi Roro Kidul dari mimpinya—auranya berbeda, lebih dingin. “Aku Sari,” katanya. “Penjaga laut. Kau berada di wilayah ratu.” Arga menelan ludah. “Ratu? Aku harus pulang,” balasnya. Sari menggeleng. “Kau tak bisa lari dari panggilan.”


Sari dan Dunia Bawah Laut

Pemandu yang Keras

Sari melangkah mendekat. Gerakannya anggun, tapi tatapannya tegas. “Kau pingsan di gerbang,” ujarnya. “Kerang itu selamatkanmu. Tapi, itu baru awal.” Arga pegang kerang lebih erat. “Awal apa? Aku tak minta ini,” katanya. Sari menatapnya dingin. “Tak ada yang minta. Tapi, laut pilih kau. Ikut aku.”

Arga ragu, tapi kakinya bergerak mengikuti. Mereka melintasi jalan karang. Ikan bercahaya berenang di samping. Makhluk aneh—setengah ikan, setengah bayang—mengintip dari celah. Arga merinding. “Ini bukan lautku,” pikirnya. Tapi, ia tahu ini nyata. Nyi Roro Kidul tak main-main.

Rahasia Kutukan

Sari berhenti di tepi jurang bawah air. Di bawah, bayang gelap berputar, seperti asap hidup. “Itu kutukan,” kata Sari. “Manusia racuni laut dengan limbah. Tapi, ada pengkhianat di sini. Mereka bantu kegelapan.” Arga mengerutkan kening. “Pengkhianat? Siapa?” Sari tak jawab langsung. “Kau akan tahu nanti. Tugasmu adalah temukan tiga artefak: Cermin Ombak, Tombak Karang, Mahkota Pasang. Hanya itu yang bisa bangkitkan kekuatan ratu.”

Arga menatap jurang itu. Bayang gelap seolah panggil dia. “Aku tak bisa,” ujarnya pelan. “Aku bukan siapa-siapa.” Sari mendengus. “Keraguanmu tak bantu laut. Kau terpilih karena darahmu. Jangan tanya kenapa. Belum waktunya.” Arga ingin protes, tapi matanya tertarik ke istana. Cahaya hijau samar keluar dari sana.


Istana Ratu dan Ujian Awal

Gerbang Istana

Sari bawa Arga ke pintu istana. Dua makhluk karang—besar, bermata biru—jaga di depan. “Yang Terpilih,” sapa mereka. Arga mundur. “Mereka tak bahaya,” kata Sari. “Tapi, di dalam, kau sendiri.” Pintu terbuka. Lorong panjang penuh cahaya menanti. Arga menoleh ke Sari. “Kau tak ikut?” tanyanya. Sari geleng. “Ini ujianmu.”

Arga melangkah masuk. Lorong itu dingin. Dindingnya bergerak, seperti air hidup. Suara Nyi Roro Kidul bergema di kepalanya. “Buktikan hatimu, Arga.” Ia gemetar. Kerang di tangannya berdenyut cepat. Di ujung lorong, ruangan luas terbuka. Kolam kecil di tengah memancarkan cahaya.

Bayang Masa Lalu

Arga dekati kolam. Airnya menunjukkan gambar. Desanya. Ibunya. Lalu, ayahnya—pria yang ia ingat samar. Ayahnya di perahu, tersapu ombak. Arga tersentak. “Ayah…” gumamnya. Gambar berubah. Ayahnya di dunia ini, terikat rantai karang. “Dia hidup?” pikir Arga. Tapi, suara lain datang. “Kau tak bisa selamatkan semua,” bisik sesuatu.

Tiba-tiba, air kolam naik. Bayang hitam muncul, seperti siluman laut. Matanya kuning, cakarnya tajam. “Kau lemah!” raungnya. Arga mundur. Jantungnya berdegup. Ia pegang kerang. Cahaya hijau meledak, tolak bayang itu. Siluman meraung, lalu lenyap. Arga jatuh berlutut. Napasnya berat. “Apa itu tadi?” pikirnya.


Kembali ke Dunia Nyata

Peringatan Sari

Sari muncul di pintu. “Kau lulus ujian pertama,” katanya. “Tapi, itu bukan apa-apa dibanding yang akan datang.” Arga marah. “Kenapa tak bilang ada monster?” tanyanya. Sari tersenyum tipis. “Kau harus belajar sendiri. Kerang itu kuat, tapi kau yang tentukan.” Ia lihat ke kolam. “Apa yang kau lihat di sana?”

Arga ragu. “Ayahku,” jawabnya pelan. Sari menatapnya tajam. “Jangan biarkan itu ganggu misimu. Artefak pertama, Cermin Ombak, ada di gua pantai dunia nyata. Mulai dari sana.” Arga ingin tanya lebih, tapi Sari angkat tangan. Cahaya putih membutakan.

Pantai Yogyakarta Lagi

Arga tersadar di pantai. Matahari pagi menyengat. Ia basah kuyup. Kerang masih di tangannya. Perahu kecilnya karam di karang. “Apa itu tadi?” gumamnya. Ia lihat ke laut. Tak ada tanda istana. Tapi, ia tahu itu nyata. Desanya masih tenang, tapi firasat buruk ada.

Lila berlari mendekat. “Arga! Kemana kamu semalam?” tanyanya, cemas. Arga lihat matanya. Ia tak bisa bohong lagi. “Aku harus cerita sesuatu,” katanya pelan. Lila menatapnya, menunggu.


Kembali ke Episode 1 | Lanjut ke Episode 3
BERSAMBUNG…
Apa rahasia Cermin Ombak yang tersembunyi di gua Pantai Yogyakarta? Akankah Arga berani ungkap panggilan Nyi Roro Kidul pada Lila? Ikuti kelanjutan petualangan di Laut Selatan!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top