Hujan baru reda sore itu saat Raka memacu motornya melalui jalan berlumpur di pedalaman Kalimantan. Langit menyisakan gumpalan awan kelabu, seolah menyimpan rahasia kelam. Udara lembab membungkus tubuhnya, dan aroma tanah basah bercampur dedaunan kering menusuk hidung. Di kanan dan kiri, hutan lebat membentang bagai tembok raksasa, menaungi jalan kecil yang menghubungkan desa-desa terpencil.
Perjalanan Raka ke Desa Arut
Raka melirik GPS di ponselnya. Desa Arut—tujuan akhirnya. Desa ini viral di media sosial karena kutukan aneh: pengantin pria selalu mati pada malam setelah ijab kabul. Awalnya, Raka mengira itu hanya cerita horor internet. Namun, setelah lima kasus serupa terjadi dalam sepuluh tahun terakhir tanpa penjelasan medis atau bukti kriminal, rasa penasaran jurnalis dalam dirinya terpicu.
“Desa Arut… apa yang kalian sembunyikan?” gumamnya pelan, motornya melaju semakin dalam.
Kedatangan di Desa yang Sunyi
Tiba di gerbang kayu bertuliskan “Selamat Datang di Desa Arut”, suasana terasa mencekam. Sunyi. Terlalu sunyi. Tak ada suara burung, hanya keheningan yang menusuk. Beberapa warga di bale-bale depan rumah berhenti berbincang saat melihat Raka. Tatapan mereka kosong, penuh curiga, seolah orang asing adalah pertanda buruk.
Seorang lelaki tua berpeci lusuh mendekat. Badannya bungkuk, tapi matanya tajam. “Mas, mau ke mana?” tanyanya dengan suara parau.
“Saya Raka, wartawan. Mau cari informasi soal kejadian pengantin di sini,” jawab Raka.
Lelaki tua itu mendengus, menggeleng pelan. “Nggak ada yang perlu dicari, Nak. Pulanglah sebelum terlambat. Desa ini bukan buat orang luar.”
Raka tersenyum sopan, mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalanan. Namun, peringatan itu membuat hatinya tak tenang.
Pertemuan dengan Bu Ratmi
Raka memilih menginap di rumah sekaligus warung kecil milik Bu Ratmi. Wanita paruh baya itu menyambut ramah, tapi matanya menyiratkan kekhawatiran saat mendengar tujuan Raka.
“Kamu anak kota, Nak. Jangan main-main sama urusan desa kami,” kata Bu Ratmi sambil menyuguhkan kopi hitam.
“Saya cuma ingin tahu kebenarannya, Bu. Katanya ada lima pengantin pria yang meninggal malam pertama?” tanya Raka.
Bu Ratmi menghela napas panjang. “Memang benar. Tapi orang sini sudah anggap itu takdir. Jangan banyak tanya, ya. Di sini ada pantangan yang nggak bisa dilanggar.”
“Pantangan apa, Bu?”
Alih-alih menjawab, Bu Ratmi memalingkan wajah. Suasana menjadi dingin.
Malam Penuh Misteri
Malam tiba cepat di Desa Arut. Langit gelap tanpa bintang, hanya diterangi lampu minyak dari rumah warga. Raka mencoba tidur, tapi suara aneh dari hutan—bisikan diselingi ringkikan samar—membuatnya gelisah.
Pukul dua dini hari, ia terbangun. Entah kenapa, matanya tertuju ke jendela. Di kejauhan, di antara pohon-pohon, bayangan tinggi besar melintas cepat lalu menghilang. Bulu kuduknya meremang.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. “Mas Raka?” Suara perempuan.
Raka membuka pintu dengan hati-hati. Seorang gadis desa berdiri di depannya. Rambutnya hitam panjang, wajahnya teduh, tapi matanya penuh kegelisahan.
“Aku Laras,” ucapnya pelan. “Mas sebaiknya berhenti mencari tahu soal kejadian di desa ini. Tapi kalau memang mau lanjut, besok pagi ikut aku. Ada sesuatu yang perlu Mas lihat.”
Sebelum Raka sempat bertanya, Laras berbalik dan menghilang dalam kegelapan lorong.
Malam semakin hening. Namun, dari hutan, suara bisikan dan ringkikan aneh itu terdengar lebih jelas, seperti tawa bercampur tangisan.
BERSAMBUNG…
Apa yang akan Raka temukan bersama Laras di pagi hari? Apa kaitannya dengan perjanjian darah di balik kutukan pengantin mati? Ikuti kelanjutan misteri Desa Arut di episode berikutnya!
