Badai yang Mengubah Segalanya
Langit kelabu menyelimuti Pantai Yogyakarta. Ombak besar masih mengamuk, sisa badai semalam. Arga, nelayan berusia 18 tahun, berjalan di tepi pantai. Jaringnya robek. Ia menghela napas. “Laut ini tak lagi sama,” gumamnya. Kulit sawo matangnya basah oleh cipratan air. Matanya menangkap kilau aneh di pasir. Ia berhenti. Sebuah kerang kecil, bersinar hijau lembut, tergeletak di sana.
Arga memungutnya. Dingin menyelinap di tangannya. “Kerang apa ini?” pikirnya. Ia tak pernah lihat yang seperti itu. Laut tenang sejenak, seolah perhatikan. Arga masukkan kerang ke saku. Firasat aneh hinggap di dadanya. Ia lihat ke laut. Ombak bergulung pelan, tapi udara terasa berat.
Di desa, nelayan berkumpul. Mereka resah. Ikan menghilang berminggu-minggu. Air laut keruh, bau busuk samar. “Laut marah,” kata seorang tetua. Arga diam. Ia ingat cerita ibunya tentang Nyi Roro Kidul, ratu gaib Laut Selatan. Tapi, itu cuma dongeng, bukan?
Lila dan Kegelisahan Desa
Pertemuan di Dermaga
Lila menunggu Arga di dermaga. Gadis 18 tahun itu berdiri dengan rambut pendek tertiup angin. Matanya penuh rasa ingin tahu. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya. Arga mengangguk, tapi wajahnya murung. Lila tahu ada yang salah. “Tetua bilang laut perlu sesaji,” ujarnya. “Mereka takut.”
Arga tak jawab. Ia pegang kerang di saku. Denyut halus terasa. Lila perhatikan tangannya. “Kamu sembunyikan apa?” desaknya, tersenyum kecil. Arga geleng kepala. “Bukan apa-apa,” katanya cepat. Lila tak puas, tapi tak memaksa. “Aku tahu kamu tak suka omong. Tapi, aku di sini, ya,” ujarnya lembut.
Desa yang Berubah
Sore itu, desa makin tegang. Seekor ikan besar ditemukan mati di pantai. Tubuhnya penuh luka aneh, seperti cakaran. Anak-anak takut. Orang tua berbisik. Mbok Sari, tetua desa, panggil warga. “Laut minta perhatian,” katanya. “Kita harus adakan ritual.” Arga dengar, tapi pikirannya ke kerang. Ia tak bisa lepas dari firasat itu.
Malam tiba. Arga duduk di teras rumah. Ibunya tidur. Ia keluarkan kerang. Cahayanya lebih terang sekarang. Angin malam bawa suara samar, seperti bisik. “Arga…” Ia tersentak. Jantungnya berdegup. “Siapa itu?” tanyanya pelan. Tak ada jawaban. Hanya ombak terdengar di kejauhan.
Mimpi yang Mengguncang
Bertemu Sang Ratu
Arga tidur dengan kerang di tangan. Mimpi datang. Ia berdiri di tengah laut. Air bergolak di kakinya. Sosok wanita muncul. Jubahnya hijau, rambutnya mengalir seperti ombak. Nyi Roro Kidul. Matanya tajam, tapi suaranya lembut. “Laut sekarat, Arga,” katanya. “Manusia racuni air. Pengkhianat gaib bantu mereka. Kau terpilih untuk hentikan ini.”
Arga gemetar. “Aku cuma nelayan,” balasnya. Ratu tersenyum tipis. “Kau lebih dari yang kau tahu,” ujarnya. Ia tunjuk kerang di tangan Arga. “Ini tanda panggilanmu.” Arga ingin tanya lagi, tapi ombak naik. Ia tersedak air. Dunia gelap.
Kebingungan Pagi
Arga bangun dengan napas tersengal. Kerang masih di tangannya. Cahayanya pudar. Ia lihat keluar. Matahari terbit, tapi desa tak tenang. Burung-burung terbang resah. Arga ingat mimpi itu. Nyi Roro Kidul. Benarkah ratu panggil dia? Atau cuma khayalan? Ia tak yakin. Tapi, ia tak bisa abaikan.
Pagi itu, Lila datang. “Kamu kelihatan lelah,” katanya. Arga hampir cerita soal mimpi. Tapi, ia urungkan. Lila tak perlu tahu. Belum saatnya. “Aku baik-baik saja,” bohongnya. Lila pandang dia lama. “Jangan bohongi aku, Arga,” ujarnya. Tapi, ia tak desak lebih.
Ritual dan Ketegangan
Upaya Menenangkan Laut
Siang itu, desa adakan ritual. Warga kumpul di pantai. Mbok Sari pimpin doa. Mereka tabur bunga ke laut. Arga ikut, tapi hatinya tak tenang. Kerang di saku terasa panas. Ia lihat ke laut. Bayang-bayang aneh bergerak di air. Hanya ia yang notice. Atau imajinasinya?
Lila berdiri di sisinya. “Kamu lihat apa?” tanyanya pelan. Arga geleng. “Cuma ombak,” jawabnya. Tapi, Lila tak yakin. Ia pegang lengan Arga. “Apa pun itu, cerita ke aku, ya,” bisiknya. Arga angguk, tapi pikirannya kacau. Ritual selesai. Laut tak berubah. Warga pulang dengan wajah muram.
Bisikan yang Kembali
Malam tiba. Arga tak tahan. Ia duduk di pantai sendirian. Kerang ia pegang. “Apa maumu?” tanyanya pelan. Suara bisik datang lagi. “Ke laut, Arga. Sekarang.” Suara itu jelas, seperti ratu di mimpinya. Jantungnya berdegup. Ia tahu ini gila. Tetua larang melaut malam. Tapi, ia tak bisa tolak.
Arga ambil perahu kecil. Ia dayung pelan. Laut tenang, tapi udara dingin. Bintang redup. Ia lihat ke air. Cahaya hijau samar muncul di bawah. “Apa itu?” gumamnya. Dengan nekat, ia ambil napas dan menyelam. Air dingin peluk tubuhnya. Cahaya itu tarik dia lebih dalam.
Gerbang ke Dunia Lain
Penemuan di Dasar Laut
Arga ikuti cahaya. Dunia berubah. Air tak lagi tekan dia. Ia lihat gerbang besar. Karang dan mutiara hiasi pintunya. Makhluk aneh jaga di depan. Matanya menyala merah. “Kau yang terpilih?” tanya makhluk itu. Suaranya bergema. Arga tak bisa jawab. Mulutnya kaku. Kerang di tangannya panas.
Makhluk itu mendekat. “Buktikan dirimu,” katanya. Arga mundur. Kepalanya pusing. Cahaya hijau kerang membutakan. Ia rasakan tarikan kuat. Dunia berputar. Air masuk paru-parunya. Ia berjuang napas. Tapi, kegelapan datang. Ia jatuh, tak sadar, di depan gerbang itu.
Kembali ke Sinopsis | Lanjut ke Episode 2
BERSAMBUNG…
Apa yang menanti Arga di balik gerbang gaib Pantai Yogyakarta? Akankah ia temukan jawaban dari bisikan Nyi Roro Kidul? Ikuti kelanjutan petualangan di Laut Selatan!
